Proposal Tesis
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE UNTUK MENENTUKAN KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN DIARE DI KELURAHAN KARYAJAYA KOTA PALEMBANG
TAHUN 2018

Oleh
RIZCITA PRILIA MELVANI
10012621721017
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
5101590-982980BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pembangunan sanitasi di Indonesia semakin menunjukan perkembangan yang progresif. Saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menuntaskan target, lambatnya peningkatan akses sanitasi di Indonesia melalui pendekatan pembangunan sanitasi berbasis kontruksi dan subsidi serta rendahnya tingkat pemahaman masyarakat untuk menjadikan sanitasi sebagai kebutuhan, memicu reformasi pendekatan.Kondisi yang tidak sehat di daerah-daerah kumuh perkotaan disebabkan oleh sanitasi yang tidak memadai, praktek kebersihan yang buruk, kepadatan penduduk yang berlebihan, serta air yang terkontaminasi. Selain itu, keluarga miskin yang kurang berpendidikan cenderung melakukan praktek-praktek kebersihan yang buruk, yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit dan peningkatan resiko kematian. Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kira-kira 116 juta orang di Indonesia masih kekurangan sanitasi yang memadai (UNICEF, 2012).Diare sampai saat ini masih menjadi masalah utama di masyarakat yang sulit untuk ditanggulangi. Dari tahun ke tahun diare tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada anak. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2009, diare adalah penyebab kematian kedua pada anak di bawah 5 tahun (Depkes RI, 2009).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia di bawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak (Depkes RI, 2009).

Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subaudit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423/1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Jumlah penderita diare di Indonesia tahun 2011 sebanyak 4.182.416 penderita, tahun 2012 sebanyak 2.843.801 penderita, sedangkan tahun 2013 sebanyak 4.128.256 penderita (Depkes RI, 2013).

Salah satu langkah dalam pencapaian target Millenium Development Goals/ MDG’s (Goal ke-4) adalah menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian Balita di Indonesia. Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat (Kemenkes RI, 2011).

Beberapa faktor yang diduga merupakan faktor risiko kejadian diare adalah faktor host, faktor lingkungan, faktor perilaku, dan pelayanan kesehatan. Faktor ibu berperan sangat penting dalam kejadian diare pada Balita. Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan Balita. Jika Balita terserang diare maka tindakan-tindakan yang ibu ambil akan menentukan perjalanan penyakitnya. Tindakan tersebut dipengaruhi berbagai hal, salah satunya adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Depkes RI, 2006).

Dengan keadaan ini penulis tertarik untuk mengetahui gambaran kejadian diare pada balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, terdapat masalah atau pertanyaan yaitu bagaimana faktor-faktor penyebab kejadian diare pada balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang?1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1Tujuan Umum
Untuk melakukan analisis terhadap faktor-faktor risiko kejadia diare pada anak balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang.

1.3.2Tujuan Khusus
Teridentifikasinya hubungan antara:
Faktor anak (usia, jenis kelamin, ASI ekslusif, imunisasi campak, kebersihan tangan dan kuku) dengan kejadian diare.

Faktor ibu (usia, pendidikan, pengetahuan, kebiasaan mencuci tangan sebelum memberikan makan pada anak) dengan kejadian diare.

Faktor lingkungan (sumber air minum, jenis dan ketersediaan jamban keluarga, jenis lantai rumah) dengan kejadian diare.

Kualitas air bersih dengan kejadian diare.

1.4Manfaat Penelitian
1.4.1Bagi Instansi Terkait
Sebagai masukan dalam mengevaluasi program yang sedang berjalan dan bahan pertimbangan dalam rangka pengambilan keputusan kebijakan dan perbaikan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan diare pada anak balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang pada masa yang akan datang.

1.4.2Bagi Program Studi
Sebagai masukan tambahan bagi penelitian lebih lanjut tentang hubungan faktor risiko terjadinya diare pada anak balita dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.4.3Bagi Pembaca/peneliti
Dapat memberikan masukan tambahan bagi kehiatan penelitian sejenis dikemudian hari yang lebih spesifik guna penanggulangan penyakit diare terutama pada anak balita.

1.5Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada faktor anak yang meliputi usia, jenis kelamin, ASI ekslusif, status gizi, imunisasi campak, kebersihan tangan dan kuku; faktor ibu yang meliputi usia, pendidikan, pengetahuan, kebiasaan mencuci tangan sebelum memberikan makan pada anak; faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum, jenis dan ketersediaan jamban keluarga, jenis lantai rumah; dan kualitas air bersih yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang.

5132070-992505BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Konsep Diare
2.1.1Pengertian Diare
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja ;10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam (Simadibrata, 2006).

Diare adalah keluarnya tinja air dan elektrolit yang hebat. Pada bayi, volume tinja lebih dari 15 g/kg/24 jam disebut diare. Pada umur 3 tahun, yang volume tinjanya sudah sama dengan orang dewasa, volume ;200 g/kg/24 jam disebut diare. Frekuensi dan konsistensi bukan merupakan indikator untuk volume tinja.

2.1.2Etiologi
Menurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005, etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab:
Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas
Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus
Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis
Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodefisiensi, kesulitan makan, dll.

2.1.3Klasifikasi Diare
Terdapat beberapa pembagian diare:
Berdasarkan lamanya diare:
Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.

Diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut.

Berdasarkan mekanisme patofisiologik:
Diare sekresi (secretory diarrhea)
Diare osmotic (osmotic diarrhea)
2.1.4Epidemiologi Diare
Menurut Depkes RI, epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut:
Penyebaran kuman yang menyebabkan diare
Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan dan minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita.

Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare
Faktor penjamu yang dapat meningkatkan insiden dan beberapa penyakit serta lama diare. Faktor-faktor tersebut tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

Faktor lingkungan dan perilaku
Penyakit diare merupakan penyakit berbasis lingkungan. Faktor yang paling dominan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor tersebut berinteraksi dengan perilaku manusia, sehingga apabila terdapat lingkungan yang tidak sehat atau tercemar kuman diare dan terakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat seperti kurangnya hygiene sanitasi pengolahan makanan, maka akan menimbulkan kejadian diare (Depkes RI, 2010).

2.1.5Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu bahkan lebih patofisiologi/patomekanisme dibawah ini:
Diare sekretorik
Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum.

Diare osmotic
Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain MgSO4, Mg(OH)2), malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi disakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa
Malabsorpsi asam empedu dan lemak
Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati.

Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit
Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif NA+K+ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal.

Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal
Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebabnya antara lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid.

Gangguan permeabilitas usus
Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus.

Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putihmenumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik.

Diare infeksi
Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif (merusak mukosa). Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut (Juffrie, 2010)
2.2Cara Penularan dan Faktor Resiko Kejadian Diare
Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat (melalui 5F = faeces, flies, food, fluid, finger). Faktor risiko terjadinya diare adalah:
Faktor perilaku
Faktor perilaku antara lain:
Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif), memberikan Makanan Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman.

Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu
Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun sebelum memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah membersihkan BAB anak.

Penyimpanan makanan yang tidak higienis
2)Faktor lingkungan
Faktor lingkungan antara lain:
Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan Mandi Cuci Kakus (MCK)
Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk
Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain: kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk, penyakit imunodefisiensi/ imunosupresi dan penderita campak (Kemenkes RI, 2011).

2.3Pencegahan Diare
Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI (2011) adalah sebagai berikut:
Pemberian ASI
ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibody dan zatzat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare pada bayi yang baru lahir. Pemberian ASI eksklusif mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora usus pada bayi-bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare (Kemenkes RI, 2011)
Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan resiko terkena diare adalah 30 kali lebih besar. Pemberian susu formula merupakan cara lain dari menyusui. Penggunaan botol untuk susu formula biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga bisa mengakibatkan terjadinya gizi buruk (Kemenkes RI, 2011).

Pemberian Makanan Pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian (Kemenkes RI, 2011).

Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping ASI yang lebih baik yaitu :
Memperkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi masih meneruskan pemberian ASI. Menambahkan macam makanan sewaktu anak berumur 6 bulan atau lebih. Memberikan makanan lebih sering (4 kali sehari) setelah anak berumur 1 tahun, memberikan semua makanan yang dimasak dengan baik 4-6 kali sehari dan meneruskan pemberian ASI bila mungkin.

Menambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk energi. Menambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya. Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, serta menyuapi anak dengan sendok yang bersih
Memasak atau merebus makanan dengan benar, menyimpan sisa makanan pada tempat yang dingin dan memanaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak (Kemenkes RI, 2011)
3)Menggunakan air bersih yang cukup
Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal-oral mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan ataubenda yang tercemar dengan tinja misalnya air minum, jari-jari tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-benar bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih.

Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah. Yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah:
Air harus diambil dari sumber terbersih yang tersedia.

Sumber air harus dilindungi dengan menjauhkannya dari hewan, membuat lokasi kakus agar jaraknya lebih dari 10 meter dari sumber yang digunakan serta lebih rendah, dan menggali parit aliran di atas sumber untuk menjauhkan air hujan dari sumber.
Air harus dikumpulkan dan disimpan dalam wadah bersih. Dan gunakan gayung bersih bergagang panjang untuk mengambil air.

Air untuk masak dan minum bagi anak harus dididihkan (Kemenkes RI, 2011)
4)Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makanan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare.

5)Menggunakan Jamban
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban, dan keluarga harus buang air besar di jamban (Kemenkes RI, 2011).

Yang harus diperhatikan oleh keluarga :
Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga.

Bersihkan jamban secara teratur.

Bila tidak ada jamban, jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat buang air besar sendiri, buang air besar hendaknya jauh dari rumah,jalan setapak dan tempat anak-anak bermain serta lebih kurang 10 meter dari sumber air, hindari buang air besar tanpa alas kaki.

6)Membuang Tinja Bayi yang Benar
Banyak orang beranggapan bahwa tinja anak bayi itu tidak berbahaya. Hal ini tidak benar karenatinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orangtuanya. Tinja bayi harus dibuang secara bersih dan benar, berikut hal-hal yang harus diperhatikan:
Kumpulkan tinja anak kecil atau bayi secepatnya, bungkus dengan daun atau kertas koran dan kuburkan atau buang di kakus.
Bantu anak untuk membuang air besarnya ke dalam wadah yang bersih dan mudah dibersihkan. Kemudian buang ke dalam kakus dan bilas wadahnya atau anak dapat buang air besar di atas suatu permukaan seperti kertas koran atau daun besar dan buang ke dalam kakus.
Bersihkan anak segera setelah anak buang air besar dan cuci tangannya.

7)Pemberian Imunisasi Campak
Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare oleh karena itu beri anak imunisasi campak segera setelah berumur 9 bulan. Anak harus diimunisasi terhadap campak secepat mungkin setelah usia 9 bulan. Diare dan disentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak dalam 4 mingggu terakhir. Hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita. Selain imunisasi campak, anak juga harus mendapat imunisasi dasar lainnya seperti imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC, imunisasi DPT untuk mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus, serta imunisasi polio yang berguna dalam pencegahan penyakit polio. Pencegahan terhadap diare atau pencarian terhadap pengobatan diare pada balita termasuk dalam perilaku kesehatan. Adapun perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok (Notoatmodjo, 2007) :Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan (health seeking behavior)
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.

Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya. Untuk menilai baik atau tidaknya perilaku kesehatan seseorang, dapat dinilai dari domain-domain perilaku. Domain-domain tersebut adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan. Dalam penelitian ini domain sikap tidak dinilai, karena merupakan perilaku tertutup (convert behavior). Perilaku tertutup merupakan persepsi seseorang terhadap suatu stimulus, yang mana persepsi ini tidak dapat diamati secara jelas. Sementara tindakan termasuk perilaku terbuka, yaitu respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Hal ini dapat secara jelas diamati oleh orang lain (Notoatmodjo, 2007).

2163445446405Diare
Diare
2.4Kerangka Teori
51562036385545929553683005156203638552609850183515-68580555625Diare Dewasa
Diare Dewasa

50482552705045720003295655048253251202604770321310401320026035Diare Balita
Diare Balita
200406026670Diare Anak
Diare Anak

26231855003801504315201295Faktor Risiko Penyakit Diare
Faktor Risiko Penyakit Diare

4331970384175Kualitas Air
Kualitas Air
1078865384810Faktor Ibu
Faktor Ibu
2726690384810Faktor Lingkungan
Faktor Lingkungan
-427355395605Faktor Anak
Faktor Anak
169545017462533997901752604963160175260169545176530164465168910
173101016573549733201682753409950168275164465164465
2811780232410Sumber air minum
Ketersediaan jamban
Jenis lantai rumah
Sumber air minum
Ketersediaan jamban
Jenis lantai rumah
1132205232410Usia Ibu
Pendidikan
Pengetahuan
Kebiasaan mencuci tangan
Usia Ibu
Pendidikan
Pengetahuan
Kebiasaan mencuci tangan
4389120234315Kandungan Bakteri Escherichia coli
Kandungan Bakteri Escherichia coli
-440690220345Usia Anak
Jenis Kelamin
ASI Eksklusif
Imunisasi Campak
Kebersihan tangan dan kuku
Usia Anak
Jenis Kelamin
ASI Eksklusif
Imunisasi Campak
Kebersihan tangan dan kuku

151130387350Keterangan:
150495394335= Variabel diteliti
= Variabel tidak diteliti
5084445-982980BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Desain Penelitian
Desain penelitian menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survey analitik melalui pendekatan cross sectional. Rancangan survey cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya subjek penelitian hanya di obeservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo, 2012).

3.2Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan.

3.2.2Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal Januari – April 2018.

3.3Populasi dan Sampel
3.3.1Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang memiliki balita (berumur 1-5 tahun) yang menderita diare yang bertempat tinggal di Kelurahan Karyajaya, Kecamatan Kertapati Kota Palembang sebanyak X orang.

3.3.2Sampel Penelitian
3.3.2.1Jumlah Sampel
Besar sampelnya adalah jumlah seluruh populasi yaitu sebanyak X ibu-ibu yang mempunyai balita yang menderita diare di Kelurahan Karyajaya, Kecamatan Kertapati Kota Palembang.

3.3.2.2Kriteria Sampel
Kriteria Inklusi
Anak berusia 1-5 tahun
Anak yang dirawat dengan diare untuk kelompok kasus dan no diare untuk kelompok kontrol
Orang tua klien bersedia anaknya dijadikan responden
Kriteria Ekslusi
Anak dengan kondisi yang kritis
Orang tua klien tidak kooperatif
3.3.2.3Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan metode Accidental Sampling, yaitu mengambil sampel dengan pertimbangan tertentu yang tidak dirancang pertemuannya terlebih dahulu (Arikunto, 2010). Penelitian dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat berdasarkan kriteria inklusi yaitu anak berusia 1-5 tahun, anak yang dirawat dengan diare untuk kelompok kasus dan non diare untuk kelompok kontrol, dan orang tua klien bersedia anaknya dijadikan sebagai responden.

3.4Kerangka Konsep
Kerangka Konsep adalah hubungan variabel-variabel yang diteliti, yang meliputi variabel dependen berupa kejadian diare dan variabel independennya terdiri dari faktor anak, faktor ibu, faktor lingkungan dan kualitas air bersih, serta berdasarkan tujuan khusus, dan tinjauan pustaka. Maka peneliti membatasi penelitian ini dengan kerangka sebagai berikut:
103505313690Faktor Anak:
Usia
Jenis Kelamin
ASI Eksklusif
Imunisasi Campak
Kebersihan kuku dan tangan
Faktor Anak:
Usia
Jenis Kelamin
ASI Eksklusif
Imunisasi Campak
Kebersihan kuku dan tangan
Variabel IndependenVariabel Dependen
40697151766570Kejadian Diare
Kejadian Diare
3621405192849526803351637665Anak Balita Umus 1 – 5 tahun
Anak Balita Umus 1 – 5 tahun
22174201946275221742040259016332203665220163322027514551638300166243016351254025901066802316480Faktor Lingkungan:
Sumber air minum
Ketersediaan jamban
Jenis lantai rumah
Faktor Lingkungan:
Sumber air minum
Ketersediaan jamban
Jenis lantai rumah
1035051134745Faktor Ibu:
Usia
Pendidikan
Pengetahuan
Kebiasaan Mencuci Tangan
Faktor Ibu:
Usia
Pendidikan
Pengetahuan
Kebiasaan Mencuci Tangan
1035053327400Kualitas Air Bersih
(Kandungan Bakteri Escherichia coli)
Kualitas Air Bersih
(Kandungan Bakteri Escherichia coli)

3.5Definisi Operasional
Definisi operasional pada penelitian ini akan menguraikan tentang variable independen yang dimaksud adalah faktor anak yang terdiri dari usia anak, jenis kelamin, ASI eksklusif, imunisasi campak, kebersihan tangan dan kuku; faktor ibu yang terdiri dari usia, pendidikan, pengetahuan, kebiasaan mencuci tangan sebelum memberikan makan pada anak; faktor lingkungan yang terdiri dari sumber air minum, ketersediaan jamban keluarga, jenis lantai rumah; dan kualitas air bersih. Variabel dependennya adalah kejadian diare pada anak balita usia 1-5 tahun di Kelurahan Karyajaya, Kecamatan Kertapati Kota Palembang.

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur dan Alat Ukut Hasil Ukur Skala Ukur
Variabel Independen
Usia Anak Lamanya hidup yang dihitung berdasarkan bulan kelahiran Cara Ukur:
Melihat catatan medis dan mengisi berdasarkan ulang tahun terakhir dalam tahun
Alat Ukur:
Kuesioner 1= 1–3 thn
2= 3-5 thn Interval
Jenis Kelamin anak Identitas diri atau seksual anak sejak ia dilahirkan Melihat catatan medis dan melihat dari langsung pasien 1= perempuan
2= Laki=laki Nominal
ASI Ekslusif Pemberian hanya ASI saja sampai usia bayi 6 bulan Jawabanyang ada di kuesioner 1=Mendapatkan ASI Ekskulusif
2=Tidak mendapatkan ASI Eksklusif Ordinal
Imunisasi Campak Cakupan pemberian imunisasi campak yang didapatkan dalam 1 tahun pertama Jawaban yang ada di kuesioner 1=Mendapatkan imunisasi campak
2=Tidak mendapatkan imunisasi campak
Nominal
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur dan Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Kebersihan tangan dan kuku Kondisi tangan dan kuku bersih serta kuku tidak panjang Observasi 1=Tangan ; kuku bersih dan pendek
2=Tangan ; kuku kotor dan panjang Nominal
Usia Ibu Lamanya hidup yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran Berdasarkan isi kuesioner yang ditulis ibu 1= 20 – 30 tahun (tidak berisiko)
2= ;20 dan ;30 tahun (berisiko) Ordinal
Pendidikan Ibu Pendidikan formal terakhir yang diikuti dan dinyatakan lulus Melihat dari pendidikan ibu yang diisi dari kuesioner 1=Tinggi (SMA/SMK/PT)
2=Rendah (SD/SMP) Ordinal
Pengetahuan Pemahaman tentang subtansi yang diukur berdasarkan nilai/skor terhadap jawaban yang benar Cara Ukur:
Dengan melihat skor yang diperoleh responden
Alat Ukur:
Kuesioner 0=Baik
1=Cukup
2=Kurang Interval
Kebiasaan cuci tangan Perilaku ibu untuk membersihkan tangan sebelum memberikan makan anak dengan menggunakan sabun Jawaban dari kuesioner 1=Selalu
2=Kadang-kadang
3=Jarang
4=Tidak pernah Ordinal
Sumber air minum Asal air yang dipakai untuk minum Jawaban dari kuesioner 1=Air sungai
2=Air hujan Ordinal
Ketersediaan Jamban Jenis dan ketersediaan jamban pada satu rumah Observasi 1=Ada
2=Tidak ada Ordinal
Jenis Lantai Rumah Bahan yang digunakan sebagai alas/lantai pada rumah
Observasi 1=Keramik
2=Semen
3=Kayu Ordinal
Variabel Defenisi Operasional Cara Ukur ; Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Kualitas Air Bersih Air yang digunakan sehari-hari apakah terdapat bakteri penyebab diare Uji Laboratorium 1=Tidak terkandung
2=Terkandung Ordinal
Variabel Dependen
Kejadian Diare Bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari 3 atau lebih disertai dengan konsistensi feses menjadi encer 0=Tidak diare
1=Diare Nominal
3.6Pengumpulan Data
3.6.1Data Primer
Data Primer diperoleh dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner oleh peneliti, melakukan observasi, dan melakukan uji laboratorium.

3.6.2Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder yang digunakan peneliti sebagai data pendukung yaitu data puskesmas terkait dan data lainnya yang mendukung baik dari puskesmas, juga data-data yang diperoleh dari buku, laporan, dan jurnal penelitian.

3.7Pengolahan Data
Ada beberapa tahap pengolahan data antara lain (Notoatmodjo, 2012):
Pengeditan data (editing)
Editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.

Apakah lengkap, dalam artian semua pertanyaan sudah terisi.

Apakah jawaban atau tulisan masing-masing pertanyaan cukup jelas atau terbaca.

Apakah jawabannya relevan dengan pertanyaannya.

Apakah jawaban-jawaban pertanyaan konsisten dengan jawaban pertanyaan yang lainnya.

Pengkodean (coding)
Pengkodean yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Pengkodean ini sangat berguna dalam memasukkan data.

Memasukkan data (data entry) atau processing
Memasukkan data yakni memasukkan hasil pengkodean (coding) dari masing-masing responden dalam bentuk “Kode” ke dalam program komputer.

Pembersihan Data (cleaning)
Mengecek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

3.8 Analisa Data
Data dianalisis dan diinterpretasikan untuk menguji hipotesis yang diajukan dengan menggunakan program komputer univariat dan bivariat.

3.8.1 Analisa Univariat
Analisa yang digunakan untuk melihat distribusi responden dari tiap-tiap veriabel independen berupa faktor anak yang meliputi usia, jenis kelamin, ASI ekslusif, status gizi, imunisasi campak, kebersihan tangan dan kuku; faktor ibu yang meliputi usia, pendidikan, pengetahuan, kebiasaan mencuci tangan sebelum memberikan makan pada anak; faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum, jenis dan ketersediaan jamban keluarga, jenis lantai rumah; dan kualitas air bersih yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang.

3.8.2Analisa Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan Uji Chi Square (X2) dengan menggunakan ? = 0,05 dan 95 % Confidence Interval/CI (logika dasar kepercayaan)37. Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis berdasarkan tingkat signifikan (nilai ?) sebesar 95%.

Jika nilai p ? ? (0,05) maka hipotesis penelitian (Ho) ditolak, menunjukkan ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
Jika nilai p ; ? (0,05 ) maka hipotesis penelitian (Ho) diterima, menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
5017770-1097280DAFTAR PUSTAKA
Depkes, RI. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta. 2009
Depkes, RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010. Jakarta. 2011
Kemenkes, RI. Situasi Diare di Indonesia. Buletin Jendela, Data dan Informasi Kesehatan. 2011.

Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar. Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.

Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta. 2012.

Pradirga RP. Faktor Risiko Kejadian Diare pada Bayi di Kelurahan Pannampu Kecamatan tallo Kota Makassar. 2013
Melina N. Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Personal Hygiene Ibu Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang. 2014.

Juffrie M, et al. Buku Ajar Gastroenterologi – Hepatologi Jilid 1. Jakarta: Balai Penerbit IDAI. 2010.