BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
HIV (Human Immunodeficiency Virus) menjadi tantangan kesehatan utama dan secara luas diakui sebagai penyakit kronis, yang memerlukan pengobatan seumur hidup baik itu kesehatan fisik, fungsi psikologis, dan hubungan sosial (Swendeman, Ingram & Rotheram-Borus., 2009). Yang menyebabkan kehilangan pekerjaan sebagai sumber keuangan, keluarga, teman sebagai dukungan utama (de Wet, Du Plessis, & Klopper., 2013). Hal ini terlihat pada tahun 2016 ada sekitar 1,8 juta (1,6 juta-2,1 juta) terinfeksi HIV di seluruh dunia (UNAIDS., 2017). Begitu juga yang terjadi pada Indonesia sesuai laporan perkembangan HIV Tri wulan 1 (2016) secara kumulatif yang terinfeksi sampai Maret 2016 sebanyak 198,219 orang serta presentasi tertinggi terdapat pada usia 25 – 49 tahun (69,7%). Dan Provinsi Jawa Barat menempati urutan ke empat dari seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah 18,727 terinfeksi virus ini (Kemenkes., 2016). Dengan meningkatnya jumlah orang terinfeksi akan menambah beban terhadap kehidupan individu, keluarga, sosial dan masyarakat serta pembangunan bangsa (Ibrahim et al., 2010). Sehingga muncul kekhawatiran tentang kesuksesan yang tidak mungkin tercapai untuk mengakhiri epidemi AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) tahun 2030.
Mengevaluasi kesepakatan dunia untuk mencapai Zero 2011 – 2015 yaitu bebas infeksi HIV baru, bebas diskriminasi dan bebas kematian terkait AIDS. Untuk bebas infeksi sesuai kesepakatan dunia tidak tercapai namun terjadi penurunan sebesar 16% tetapi paling lambat bila dibandingkan dengan keputusan UNAIDS yaitu target infeksi baru kurang dari 500.000 per tahun (UNAIDS, 2017). Pada diskriminasi masih ada, ini dibuktikan pada 30 negara terdapat 1 dari 10 orang melaporkan bahwa mereka kehilangan sumber penghasilan karena status penyakit ini, menurut survei dari 22 negara didapat lebih dari 10% orang terinfeksi menyampaikan bahwa mereka tidak mendapat perawatan kesehatan, selain itu antara 1 April 2013 dan 30 September 2015 di Botswana, Pantai Gading, Nigeria dan Uganda membuat undang-undang kriminalisasi HIV yang baru (UNAIDS., 2016). Begitu juga dengan bebas kematian pada AIDS tidak tercapai namun terjadi penurunan pada tahun 2016 sebesar 1,0 juta (830.000 – 1,2 juta) (UNAIDS., 2017). Sehingga evaluasi kesepakatan Zero 2011- 2015 tidak tercapai, namun terjadi penurunan pada infeksi baru dan kematian karena AIDS sedangkan pada diskriminasi terkait dengan persepsi stigma masih tetap ada.
Persepsi stigma HIV merupakan hambatan dalam pencegahan, pengobatan dan perawatan untuk penanggulangan HIV di dunia. Ini sesuai dengan penelitian di India yaitu dapat menjadi hambatan bagi kesehatan dan kesejahteran untuk pasien terutama bagi perempuan lebih tinggi dari laki – laki (Yakhmi et al., 2014). Ini sejalan pada penelitian di Afrika Selatan yang memperlihatkan pengaruh terhadap kehidupan pasien yaitu pengungkapan dan perawatan (Gilbert & Walker., 2010). Begitu juga di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Shaluhiyah, Musthofa & Widjanarko. (2015) di Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah) terlihat hampir separuh dari responden memiliki sikap negatif terhadap HIV seperti tidak makan makanan yang disediakan atau dijual, tidak mengizinkan anaknya bermain dengan anak dari orang tua yang terinfeksi, tidak mau mempergunakan toilet bersama, menolak untuk tinggal dekat. Untuk itu persepsi stigma yang terjadi pada pasien diminimalkan bila perlu dihilangkan untuk peningkatkan kualitas hidup pasien.
Masalah sosial akan dihadapi oleh pasien baik di masyarakat, keluarga dan individu. Dikarenakan HIV sebagai penyakit mematikan, penyakit karena perbuatan melanggar susila dan kotor, penderita sebagai sumber penularan (Kemenkes., 2012). Persepsi stigma HIV adalah penilaian terhadap orang yang terinfeksi dengan atribut atau karakteristik negatif oleh masyakarat sehingga mendapat perlakuan yang berbeda dengan orang lain (Earnshaw & Chaudoir., 2009; Greeff et al., 2008). Yang apabila dimiliki oleh petugas kesehatan dapat menghambat kebijakan negara untuk diagnosis dan perawatan medis yang efektif (Waluyo et al., 2015). Pada pasein sendiri menjadi hambatan terhadap pemanfaatan layanan kesehatan (Swendeman, Ingram & Rotheram-Borus.,2009). Untuk itu persepsi stigma yang terkontrol mempunyai peran penting dalam kesejateraan emosional pasien dengan lintas budaya (Kalichman et al., 2009). Sehingga diperlukan intervensi untuk mengurangi masalah sosial yang disebabkan oleh persepsi stigma.
Terdapat penelitian sebelumnya tentang persepsi stigma. Pada masyarakat dibuktikan dengan penelitian di Ghana tentang persepsi stigma yang memberikan dampak negatif yang besar pada seseorang serta dapat mendukung terjadinya stigmatisasi internal dibandingkan dengan teman yang bersikap baik (Koku., 2011). Untuk keluarga seperti penelitian di Meksiko bahwa persepsi keluarga terhadap HIV/AIDS tergantung pada dinamika keluarga yang pernah mempunyai anggota keluarga dengan penyakit ini akan mengalami ketegangan sedangkan keluarga yang dapat berkomunikasi dan mempunyai hubungan kedekatan cenderung dapat memberikan dampak positif (Castro et al., 1998). Untuk individu dibuktikan dengan penelitian di Swiss pada remaja muda lebih cenderung melakukan pengungkapan statsu kepada orang tua terutama kepada ibu berbeda dengan pada remaja tua yang cenderung menutup diri dan walaupun pengungkapan status telah dilakukan kepada orang tua terutama ibu yang terinfeksi tidak akan mengungkapan status anaknya karena takut dengan dampak negatif stigma pada anaknya dan keluarga (Michaud et al., 2009). Sehingga persepsi stigma merupakan hasil dari pengalaman pasien.
Tahap awal untuk menerima anggota keluarga yang sakit adalah memiliki persepsi stigma yang ringan. Ini dibuktikan pada keluarga bervariasi dari mendukung secara terbuka hingga diskrisminatif (Castro et al.,1998). Karena fungsi keluarga dan budaya dapat mempengaruhi persepsi tentang informasi penyakit ini (de Wet, Du Plessis, & Klopper., 2013).Sehingga faktor eksternal (sosial) dan internal (individu) dapat menyebabkan perbedaan persepsi stigma HIV (Earnshaw & Chaudoir., 2009). Yang mana pada penelitian Ibrahim et al. (2013) persepsi stigma merupakan urutan kedua bila dihubungkan dengan kepatuhan pengobatan. Ini berarti persepsi stigma dapat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan budaya.
Cara untuk mengurangi penyebaran penyakit ini adalah dengan pengungkapan status kepada keluarga namun sulit dilakukan terutama kepada pasangan. Hal ini sesuai pendapat (Geary et al., 2014; Mucheto et al., 2011) bahwa pengungkapan status adalah masalah yang sulit dilakukan karena mempunyai resiko mengancam jiwa dan stigmanisasi. Pendapat ini didukung oleh de We., Du Plessi & Klopper. (2013) terlihat bahwa pasien dengan keluarga menghadapi masalah sosial dan finansial karena pengangguran dan penghasilan rendah. Berbeda dengan temuan Makoae dan Jubber. (2008) bahwa dengan pengungkapan status mendapat kebebasan yang telah hilang dan memiliki dukungan keluarga baik secara finansial atau emosional serta faktor penunjang dalam pengobatan ARV (antiretroviral). Ini sependapat dengan Go et al. (2016) pengungkapan status kepada keluarga dekat seperti saudara kandung atau pasangan cenderung dilakukan oleh pasien yang memiliki pengetahuan luas tentang penyakit dan pengobatan sehingga mendapatkan dukungan emosional dan nyata. Jadi dengan pengungkapan status memegang peran penting dalam mengurangi penyebaran HIV.
Respon terhadap pengungkapan status pada keluarga beragam baik yang menerima atau mendukung dan menolak secara langsung atau harus menghindar. Ini sesuai temuan Adeoye- Agboolaet et al (2016) bahwa pengungkapan merupakan keputusan penting yang akan diambil karena menghasilkan respon postif dan negatif. Respon negatif seperti terjadi pada wanita di India dikaitkan dengan karakter amoral, ditolak oleh mertua atau anggota keluarga (Yakhmi et al., 2014). Sedangkan respon positif yaitu mendapat dukungan emosional, dukunan fisik, keuangan, spiritual dan sosial ( Dankoli et al., 2014; Okareh et al., 2015; Sadoh, W. E., & Sadoh, A. E., 2009). Pengungkapan dapat memberikan dampak positif atau keuntungan bila terdapat stigmanisasi yang rendah.
Peranan keluarga sangat penting sebagai support system pertama untuk adapatasi terhadap stressor baik fisik, psikologis maupun sosial. Sikap, dan tindakan dari anggota keluarga sebagai hubungan interpersonal sehingga merasa diterima dengan status HIV (Friedman., 2010). Yang mana diperlukan dukungan karena penyakit ini bersifat kronis dan penanganannya komprehensif (Li et al., 2008). Sehingga mempercepat proses pemulihan dan menurunkan kesakitan dengan dirawat oleh orang orang terdekat atau keluarga.
Peranan perawat di Rumah Sakit dan Puskesnas untuk melaksanakan konseling pada pasien di klinik CST (Care Support Treatment). Ini sesuai dengan UU No 38 tahun 2014 tentang keperawatan pasal 29 tentang tugas perawat yang diantaranya sebagai pemberi asuhan keperawatan dan konselor. Yang mana dapat memberikan motivasi dan respon yang baik dilingkungan keluarga, dan masyarakat (Marubenny & Aisah., 2013). Sehingga peran perawat sangat penting dalam penurunan persepsi stigma baik itu pribadi, keluarga maupun masyarakat (Lewis., 2011). Dengan mengetahui persepsi stigma pada ODHA, keluarga dan masyarakat dapat membantu perawat dalam mengembangkan intervensi.
Persepsi stigma telah mendapat perhatian khusus untuk tenaga kesehatan dan ilmuwan khususnya dibidang HIV/AIDS. Ini sejalan dengan penelitian Ibrahim & Songwathana. (2009) kesalahan persepsi dan pengetahuan yang kurang mengenai HIV dikalangan umat islam meyebabkan stigmanisasi, diskriminasi serta pengabaian terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Beberapa penelitian mengungungkapkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kepatuhan minum obat ARV dengan persepsi stigma di Klinik Seroja Kota Cirebon (Ibrahim et al., 2013). Selain itu ada penelitian mengenai pengaruh konseling stigma dengan persepsi stigma pada ODHA di Klinik Seroja Kota Cirebon (Ibrahim, Purba, Setya., 2016). Di samping itu ada penelitian penelitian tentang persepsi ODHA terhadap stigma HIV/AIDS (Hermawati., 2011). Sikap dan persepsi keluarga terhadap anggota keluaraga yang menderita HIV/AIDS di Kabupaten Temanggung (Purbaya., 2012). Serta penelitian penelitian lain mengenai persepsi stigma lebih banyak dipublikasi pada Negara – negara Benua Afrika dan Benua Eropa.
BLUD RSU Kota Banjar yang berlokasi di Jawa Barat bagian timur merupakan Rumah Sakit rujukan di dearah Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat pada khususnya dan wilayah lain pada umumnya sebagai instansi pelayanan jasa kesehatan. Ada pun jumlah kunjungan pasien pada Poliklinik Soka pada tahun 2017 berjumlah 258 orang dan yang mengikuti terapi ARV berjumlah 125 orang. Sesuai hasil wawancara dengan perawat konselor di Poliklinik Soka (Klinik CST) 40 orang yang telah mengungkapan status kepada keluarga dan sisanya belum diketahui oleh keluarga.
Sesuai pengalaman peneliti sebagai enumerator di RSU Ajarwinangun terdapat beberapa pasien ODHA yang mengalami kesulitan untuk pengungkapan status kepada keluarga dan mencari pelayanan kesehatan. Selain itu sebagai konselor di RSU Haulussy Ambon mengalami hal yang sama dalam mengungkapan status kepada keluarga dan pengobatan . Untuk itu sebagai perawat ingin mengetahui persepsi stigma pada ODHA dan keluarga yang mengetahui status HIV anggota keluarga sehingga membutuhkan penelitian untuk mengetahui perbedaan persepsi stigma pada ODHA dan keluarga yang menerima dan menolak anggota keluarga yang diagnosa HIV/AIDS setelah dilakukan pengungkapan status penyakit ini.
Berdasarkan uraian diatas, penting untuk penelitian tentang ” perbedaan persepsi stigma pada ODHA dan keluarga di BLUD RSU Kota Banjar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Adakah perbedaan yang bermakna antara persepsi stigma HIV pada ODHA dan keluarga di BLUD RSU Kota Banjar” ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan persepsi stigma HIV pada ODHA dan keluarga di BLUD RSU Kota Banjar
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi persepsi stigma HIV pada ODHA di BLUD RSU Kota Banjar.
2. Mengidentifikasi persepsi stigma HIV pada keluarga di BLUD RSU Kota Banjar.
3. Menguji perbedaan antara persepsi stigma HIV pada ODHA dengan keluarga di BLUD RSU Kota Banjar.
4. Menguji perbedaan persepsi stigma HIV pada keluarga yang menerima dengan menolak pasien ODHA di BLUD RSU Kota Banjar
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Praktek keperawatan
Hasil penelitian ini di harapkan menjadi sumber informasi bagi petugas kesehatan khususnya tim VCT dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan keluarg serta dasar untuk memberikan intervensi keperawatan dalam upaya mengurangi persepsi stigma HIV yang terjadi pada ODHA dan keluarga.
2. Bagi Pendidikan Keperawatan
Diharapkan dapat memberikan pandangan baru mengenai persepsi stigma HIV pada ODHA dan keluarga setelah pengungkapan status HIV

3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal untuk penelitian selanjutnya yang terkait perbedan persepsi stigma HIV pada ODHA dan keluarga dengan pengungkapan status HIV